Potret Budaya

Potret Budaya


Sejarah Puasa

8.14.2010 | 0 Comments

Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang dilaksanakan oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Allah swt. telah mewajibkannya kepada kaum yang beriman, sebagaimana telah diwajibkan atas kaum sebelum Muhammad saw. Puasa merupakan amal ibadah klasik yang telah diwajibkan atas setiap umat-umat terdahulu.
Ada empat bentuk puasa yang telah dilakukan oleh umat terdahulu, yaitu:
Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang dilaksanakan oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Allah swt. telah mewajibkannya kepada kaum yang beriman, sebagaimana telah diwajibkan atas kaum sebelum Muhammad saw. Puasa merupakan amal ibadah klasik yang telah diwajibkan atas setiap umat-umat terdahulu.
Ada empat bentuk puasa yang telah dilakukan oleh umat terdahulu, yaitu:

1. Puasanya orang-orang sufi, yakni praktek puasa setiap hari dengan maksud menambah pahala. Misalnya puasanya para pendeta
2. Puasa bicara, yakni praktek puasa kaum Yahudi. Sebagaimana yang telah dikisahkan Allah dalam Al-Qur’an, surat Maryam ayat 26 :
“Jika kamu (Maryam) melihat seorang manusia, maka katakanlah, sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa untuk tuhan yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini” (Q.S. Maryam :26).
3. Puasa dari seluruh atau sebagian perbuatan (bertapa), seperti puasa yang dilakukan oleh pemeluk agama Budha dan sebagian Yahudi. Dan puasa-puasa kaum-kaum lainnya yang mempunyai cara dan kriteria yang telah ditentukan oleh masing-masing kaum tersebut.
4. Sedang kewajiban puasa dalam Islam, orang akan tahu bahwa ia mempunyai aturan yang tengah-tengah yang berbeda dari puasa kaum sebelumnya baik dalam tata cara dan waktu pelaksanaan. Tidak terlalu ketat sehingga memberatkan kaum muslimin, juga tidak terlalu longgar sehingga mengabaikan aspek kejiwaan. Hal mana telah menunjukkan keluwesan Islam.

HIKMAH PUASA

Diwajibkannya puasa atas ummat Islam mempunyai hikmah yang dalam. Yakni merealisasikan ketakwaan kepada Allan swt. Sebagaimana yang terkandung dalam surat al-Baqarah ayat 183:
“Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kalain bertakwa.”

Kadar takwa tersebut terefleksi dalam tingkah laku, yakni melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Al-Baqarah ayat 185 :
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan tersebut, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. Ayat ini menjelaskan alasan yang melatarbelakangi mengapa puasa diwajibkan di bulan Ramadhan, tidak di bulan yang lain. Allah mengisyaratkan hikmah puasa bulan Ramadhan, yaitu karena Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan yang diistimewakan Allah dengan dengan menurunkan kenikmatan terbesar di dalamnya, yaitu al-Qur’an al-Karim yang akan menunjukan manusia ke jalan yang lurus. Ramadhan juga merupakan pengobat hati, rahmah bagi orang-orang yang beriman, dan sebagai pembersih hati serta penenang jiwa-raga. Inilah nikmat terbesar dan teragung. Maka wajib bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk bersyukur kepada Sang Pemberi Nikmat tiap pagi dan sore.

Bila puasa telah diwajibkan kepada umat terdahulu, maka adakah puasa yang diwajibkan atas umat Islam sebelum Ramadhan?

Jumhur ulama dan sebagian pengikut Imam Syafi’i berpendapat bahwa tidak ada puasa yang pernah diwajibkan atas umat Islam sebelum bulan Ramadhan. Pendapat ini dilandaskan pada hadis Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah :
“Hari ini adalah hari Asyura’, dan Allah tidak mewajibkannya atas kalian. Siapa yang mau silahkan berpuasa, yang tidak juga boleh meninggalkannya.”

Sedangkan madzhab Hanafi mempunyai pendapat lain: bahwa puasa yang diwajibkan pertamakali atas umat Islam adalah puasa Asyura’. Setelah datang Ramadhan Asyura’ dirombak (mansukh). Madzhab ini mengambil dalil hadisnya Ibn Umar dan Aisyah ra.: diriwayatkan dari Ibn ‘Amr ra. bahwa Nabi saw. telah berpuasa hari Asyura’ dan memerintahkannya (kepada umatnya) untuk berpuasa pada hari itu. Dan ketika datang Ramadhan maka lantas puasa Asyura’ beliau tinggalkan, Abdullah (Ibnu ‘Amr) juga tidak berpuasa”. (H.R. Bukhari).

“Diriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa orang-orang Quraisy biasa melakukan puasa Asyura’ pada masa jahiliyah. Kemudian Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa hari Asyura’ sampai diwajibkannya puasa Ramadhan. Dan Rasul berkata, barang siapa ingin berpuasa Asyura’ silahkan berpuasa, jika tidak juga tak apa-apa”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Pada masa-masa sebelumnya, Rasulullah biasa melakukan puasa Asyura’ sejak sebelum hijrah dan terus berlanjut sampai usai hijrah. Ketika hijrah ke Madinah beliau mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa (Asyura’), beliau pun ikut berpuasa seperti mereka dan manyerukan ke ummatnya untuk melakukan puasa itu.

Hal ini sesuai dengan wahyu secara mutawattir (berkesinambungan) dan ijtihad yang tidak hanya berdasar hadis Ahaad (hadis yang diriwayatkan oleh tidak lebih dari satu orang). ”Ibn Abbas ra. meriwayatkan: ketika Nabi saw. sampai di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi sedang melakukan puasa Asyura’, lalu beliau bertanya: (puasa) apa ini? Mereka menjawab: ini adalah hari Nabi Saleh as., hari di mana Allah swt. memenangkan Bani Israel atas musuh-musuhnya, maka lantas Musa as. melakukan puasa pada hari itu. Lalu Nabi saw. berkata: aku lebih berhak atas Musa dari kalian. Lantas beliau melaksanakan puasa tersebut dan memerintahkan (kepada sahabat-sahabatnya) berpuasa. (HR. Bukhari).

Puasa Ramadhan diwajibkan pada bulan Sya’ban tahun kedua hijriyah, maka lantas, sebagaimana madzhab Abi Hanifah, kewajiban puasa Asyura terombak (mansukh). Sedang menurut madzhab lainnya, kewajiban puasa Ramadhan itu hanya merombak kesunatan puasa Asyura’.

Kewajiban puasa Ramadhan berlandaskan Al-qur’an, Sunnah, dan Ijma.
“Diriwayatkan dari Abdullah Ibn Umar, bahwasanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda: Islam berdiri atas lima pilar: kesaksian tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, mengeluarkan zakat, haji ke Baitullah (Makkah) dan berpuasa di bulan Ramadhan.”

Kata ‘al-haj’ (haji) didahulukan sebelum kata ‘al-shaum’ (puasa), itu menunjukkan pelaksanakaan haji lebih banyak menuntut pengorbanan waktu dan harta. Sedang dalam riwayat lain, kata ‘al-shaum’ didahulukan, karena kewajiban puasa lebih merata (bisa dilaksanakan oleh mayoritas umat Islam) dari pada haji.

Kewajiban puasa Ramadhan sangat terang. Barang siapa yang mengingkari atau mengabaikan keberadaannya dia termasuk orang kafir, kecuali mereka yang hidup pada zaman Islam masih baru atau orang yang hidup jauh dari ulama.

DEFINISI PUASA

Secara etimologi, puasa berarti menahan, baik menahan makan, minum, bicara dan perbuatan. Seperti yang ditunjukkan firman Allah, surat Maryam ayat 26 :
“Sesungguhnya aku telah bernadzar berpuasa demi Tuhan yang Maha Pemurah, bahwasanya aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (Q.S. Maryam : 26)

Sedangkan secara terminologi, puasa adalah menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa dengan disertai niat berpuasa. Sebagian ulama mendefinisikan, puasa adalah menahan nafsu dua anggota badan, perut dan alat kelamin sehari penuh, sejak terbitnya fajar kedua sampai terbenarnnya matahari dengan memakai niat tertentu. Puasa Ramadhan wajib dilakukan, adakalanya karena telah melihat hitungan Sya’ban telah sempurna 30 hari penuh atau dengan melihat bulan pada malam tanggal 30 Sya’ban. Sesuai dengan hadits Nabi saw.

“Berpuasalah dengan karena kamu telah melihat bulan (ru’yat), dan berbukalah dengan berdasar ru’yat pula. Jika bulan tertutup mendung, maka genapkanlah Sya’ban menjadi 30 hari.”***
dikutip dari: “Pilar-pilar Islam dalam al-Sunnah” karya Prof. Dr. Umar Hasyim


DAMAR-NAEK KARETA

9.10.2008 | 0 Comments

NAEK KARETA

Meureun aya benerna, jang jelema leutik mah, naon nu kapanggih ayeuna, tangtu jang dahar ayeuna. Lamun golongan jelema leutik dikumpulkeun, terus bae titah nyaritakeun kumaha sabenerna kahirupan nu nyata, nu kapanggih ti isuk nepi ka peuting, tantuna jawabanna hiji, kumaha engke!. Ulahna jang mikiran isuk sabab poe ieu geh can puguh araheunana.

Ieu carita lain dek ngaya-ngaya, dina hiji poe ngalaman kudu naek kareta ti Rangkas, jam sabelas keneh geus nagkring di peron, ja ceuk jadwal mah kareta berangkat jam 11.30, setengah duabelas. Aya waktu satengah jam, dieusian ku meuli koran, diilikan heula ti mimita koran lokal, kabeh sarua, Kajati Banten kesulitan mendapat ijin dari Depdagri, perihal pemeriksaan anggota Dewan terkait korupsi DP, ini merupakan pemeriksaan kasus DP tahap II. Mani ngajeblag eta tulisan, sumberna sarua. Ceuk saurang digigireun teu aneh, coba lamun jelema leutik jiga urang, can tangtu salah geh geus ringsek. Atuh ulah disaruakeun…., seuk saurang deui gigirennana. Maranehna mah pajabat, samarukna urang…. Heueuh pan urang mah pedah dagang ngampar geh hayoh pada ngadupak, dialusiran, TPR mah jojong…, diusir jojong.

Geus jam setengah dua belas, kareta can sapotong-potong acan. Kumaha ieu?, kareta can ngolol keneh. Sabar lamun kareta tepat, mantak jantungan penumpang cenah, ceuk hiji pamuda, anu buukna gondrong bari ngagandong ransel merek alpina.

Teu lila aya pengumuman, …mohon perhatian, kereta jurusan Tanabang baru memasuki stasion Maja. Satengah jam keneh gerentes. Maca deui tamba kesel, Wilayah Pantai Utara Jawa Timur, Sejak Dua Minggu terakhir dilanda Kelangkaan BBM… Beh cilaka ieu, naon deui cenah, ngahuleng… Minggir-minggir… ceuk mamang-mamang kuli panggul sugan mawa turuyan cau sabaraha puluh turuy meren… lamun dipepetkeun sagerbongeun, Salah sa urang nu rada peang ngagorowok, maneh panto ujung nunjuk ka salah saurang baturna, si Udin panto hareup, rada gancang ieu mah kareta langsing jigana, hariweusweus bari ngusapan kesang.

Tengtong,…tengtong. Mohon perhatian Kereta menuju Tanabang masuk spur 2, harap diperhatikan, bagi para penumpang dihimbau untuk membeli karcis, dan dilarang naik di atap gerbong. Ngan sakitu. Kareta langsam di jalur nu disebut spur 2.

Panumpang haliwu, gura giru kabeh panto dicegat. Teu kayaan aya nu ngaloncat kana jandela sagala, nu penting menang tempat diuk. Bus kajero geus pinuh, aya nu lowong rada pojok, ngan bararaseuh, nu diuk dipojok rada mosongot, udah ada yang ngisi…, cenah bari ngeser-ngeser kardus bawaanana.


DAMAR-REBO WEKASAN

9.10.2008 | 0 Comments

REBO WEKASAN

Nincak panungtung bulan safar, husus na mah poe rebo panutup geus biasa, di wewengkon Banten kabeh imah ngarulub kupat, ari maksud na mah, ceuk kolot ieu geh, ieu jang tolak bala sakalian papadang ati. Rupa-rupa pangabisa samodel Aya mang kasan anu bisa nyieun urung kupat dina tangkal kalapa keneh bari jeung aneh, sabab nyieun urung beda ti batur, eta daun kalapa teu kudu ditektek palapah na, ngan urung dijieun tina buntut lain tina hulu pan teu kaharti eta. Semang teuing lalanjung bari monggeheng dina tangkal kalapa bari nyiun urung. Lain teu hebat eta!. Hayoh.

Ari urung kupat bentuk na rupa-rupa ti mimiti kupat pasar, kupat bawang, kupat keupeul, kupar manuk, kupat balencong, teu katinggaleun nyarieun Leupeut, Salimpeu, sampe ka beubeud. Ari eusina ti mimiti beas Cimanuk sampe ketan hideung.

Nu karunya tangkal kalapa, sagalana diarah bebeakan, untung teu ceurik, coba lamun jelema geus ngajengek meureun.

Tetenongan, ceuk no bohong tea mah sampe tujuh belas susun, teu percaya sabodo.

Lian ti eta aya nu percaya lamun boga karesep ngusep, eta wanci anu bagus jang nyieun jejer, siringan ti paray nepi ka Boncel moal leupas.bari dijampean mais….., meuleum…., moroos….., poos.(cep bungsu rangkas)