<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>D E V A C R A N A</title>
	<atom:link href="http://devacrana.com/2564/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://devacrana.com/2564</link>
	<description>menyalakan pelita dalam kegelapan...</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Sep 2010 16:33:30 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>WISATA LEBARAN DI BANTEN</title>
		<link>http://devacrana.com/2564/?p=226</link>
		<comments>http://devacrana.com/2564/?p=226#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Sep 2010 16:33:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayahhafeedz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaki Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[Banten]]></category>
		<category><![CDATA[hambatan]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>
		<category><![CDATA[selat sunda]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://devacrana.com/2564/?p=226</guid>
		<description><![CDATA[Dalam pertemuan dengan seniman dan Budayawan Lebak, beberapa hari lalu kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Banten menitipkan arti penting keamanan dan kenyamanan kawasan wisata. Terdapat beberapa catatan penting berkenaan dengan hal tersebut; bahwa kesadaran masyarakat masih mejadi catatan serius, khususnya bagi kawasan sekitar selat sunda akibat agresivitas pelaku sektor informal dalam menawarkan jasa. Masa libur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam pertemuan dengan seniman dan Budayawan Lebak, beberapa hari lalu kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Banten menitipkan arti penting keamanan dan kenyamanan kawasan wisata. Terdapat beberapa catatan penting berkenaan dengan hal tersebut; bahwa kesadaran masyarakat masih mejadi catatan serius, khususnya bagi kawasan sekitar selat sunda akibat agresivitas pelaku sektor informal dalam menawarkan jasa. Masa libur lebaran masih dianggap sebagai tempo marema, sehingga dianggap sebagai waktu yang tepat untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya, meski mengabaikan enyamanan pengunjung. pada sisi lain infrstruktur jalan yang belum rampung pasca pembangunan PLTU labuan masih menyisakan PR berat, lalu lalang kendaraan ber-tonage besar menjadi hambatan yang luar biasa.  kebersihan dan kotornya udara perlu penangan serius dan sesegera mungkin.</p>
<p>masih banyaknya catatan, akan berkorelasi secara langsung ataupun tidak dengan terganjalnya harapan kepala dinas tadi.-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://devacrana.com/2564/?feed=rss2&amp;p=226</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketupat Lebaran Penuh Makna</title>
		<link>http://devacrana.com/2564/?p=224</link>
		<comments>http://devacrana.com/2564/?p=224#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Sep 2010 16:18:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayahhafeedz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaki Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[bergairah]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[enak]]></category>
		<category><![CDATA[filosofi]]></category>
		<category><![CDATA[ketupat]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[tante]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://devacrana.com/2564/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[KapanLagi.com &#8211; Ketupat selalu identik dengan yang namanya Lebaran. Tetapi sebenarnya apa sih yang membuat Ketupat menjadi tradisi yang selalu ada waktu Lebaran?
Filosofi Ketupat
Pertanyaan yang ada sekarang, kenapa menggunakan Ketupat? Bagi masyarakat Jawa, Ketupat memiliki arti tersendiri, selain dari nama dan bentuk, proses pembuatan Ketupat sendiri memiliki makna dan arti dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Kita mulai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">KapanLagi.com &#8211; Ketupat selalu identik dengan yang namanya <a href="http://kartu.kapanlagi.com/event/ramadhan.html" target="_blank">Lebaran</a>. Tetapi sebenarnya apa sih yang membuat Ketupat menjadi tradisi yang selalu ada waktu <a href="http://kartu.kapanlagi.com/event/ramadhan.html" target="_blank">Lebaran</a>?</p>
<p style="text-align: justify;">Filosofi Ketupat</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan yang ada sekarang, kenapa menggunakan Ketupat? Bagi masyarakat Jawa, Ketupat memiliki arti tersendiri, selain dari nama dan bentuk, proses pembuatan Ketupat sendiri memiliki makna dan arti dalam kehidupan masyarakat Jawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita mulai dari nama yuk&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketupat dalam bahasa jawa biasa disebut kupat, dalam salah satu website, disebutkan bahwa adanya tradisi makan Ketupat di luar (setelah) hari <a href="http://kartu.kapanlagi.com/event/ramadhan.html" target="_blank">Lebaran</a>, yang biasanya dinamakan dengan hari Raya Ketupat, disebut sebagai tradisi Kupat Luar. Kupat ini berasal dari kata Pat atau Lepat (kesalahan) dan &#8220;Luar&#8221; yang berarti di luar, atau terbebas atau terlepas, dengan harapan bahwa orang yang memakan Ketupat akan kembali diingatkan bahwa mereka sudah terlepas dan terbebas dari kesalahan, sehingga masyarakat diharapkan akan saling memaafkan dan saling melebur dosa dengan simbolisasi tradisi kupat luar.</p>
<p style="text-align: justify;">Di salah satu sumber lain, Ketupat berasal dari kerotoboso (atau bahasa singkatan) dari kata Ngaku Lepat yang berarti mengakui kesalahan. Tradisi Ketupat diharapkan akan membuat kita mau mengakui kesalahan kita sehingga membantu kita untuk memaafkan kesalahan orang lain juga. Sehingga, dosa yang ada akan saling terlebur.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita ngomongin bentuknya yuk&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Pada umumnya, dikenal dua bentuk Ketupat, dan bentuk yang paling sering dikenal adalah bentuk Ketupat yang seperti pelajaran di SD dulu yaitu belah ketupat! Bentuk persegi seperti ini dapat diartikan di masyarakat Jawa sebagai perwujudan dari kiblat papat lima pancer, dengan berbagi penjelasan dan berbagai cara memandang. Ada yang memaknai kiblat papat lima pancer ini sebagai keseimbangan alam: 4 arah mata angin utama, yaitu timur, selatan, barat, dan utara. Akan tetapi semua arah ini bertumpu pada satu pusat. Bila salah satunya hilang, keseimbangan alam akan hilang. Begitu pula hendaknya manusia, dalam kehidupannya, ke arah manapun dia pergi, hendaknya jangan pernah melupakan pancer: Tuhan yang Maha Esa.</p>
<p style="text-align: justify;">Kiblat papat lima pancer ini dapat juga diartikan sebagai 4 macam nafsu manusia dalam tradisi jawa: amarah, aluamah, supiah, dan mutmainah. Amarah adalah nafsu emosional, aluamah adalah nafsu untuk memuaskan rasa lapar, supiah adalah nafsu untuk memiliki sesuatu yang indah atau bagus, dan mutmainah adalah nafsu untuk memaksa diri. Keempat nafsu ini adalah empat hal yang kita taklukkan selama berpuasa, jadi dengan memakan Ketupat, disimbolkan bahwa kita sudah mampu melawan dan menaklukkan hal ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita bicarakan bahan pembuatnya yuk&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketupat merupakan makanan dengan isi beras, berselongsong janur atau daun kelapa yang berwarna agak kekuningan. Salah satu cara mematangkan Ketupat adalah dengan merebusnya dalam santan, atau, jika Ketupat direbus dalam air biasa, akan dihidangkan bersama makanan bersantan</p>
<p style="text-align: justify;">1. Janur kuning.</p>
<p style="text-align: justify;">Janur kuning ini adalah lambang penolakan bala. Di Kraton Surakarta, ada salah satu aksesoris wajib yang harus dikenakan, dan berbentuk kain panjang berwarna kuning. Kain ini disebut samir. Samir ini merupakan penolak bala, nah, Janur kuning adalah simbol dari samir tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Beras.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai simbol kemakmuran, beras dianggap sebagai doa agar kita semua diberi kelimpahan kemakmuran setelah hari raya.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Santan.</p>
<p style="text-align: justify;">Santan, atau dalam bahasa jawa santen, berima dengan kata ngapunten yang berarti memohon maaf. Salah satu pantun yang terkenal yang menyebut keberadaan Ketupat dan santan adalah:</p>
<p style="text-align: justify;">Mangan kupat nganggo santen.</p>
<p style="text-align: justify;">Menawi lepat, nyuwun pangapunten.</p>
<p style="text-align: justify;">(Makan Ketupat pakai santan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila ada kesalahan mohon dimaafkan.)</p>
<p style="text-align: justify;">Kita bicarakan tradisi pembuatannya yuk&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketupat dimulai dengan pembuatan selongsongnya. Selongsong ini dibuat biasanya mendekati <a href="http://kartu.kapanlagi.com/event/ramadhan.html" target="_blank">lebaran</a>, dan dibuat beramai-ramai, biasanya oleh para wanita dengan jari-jari yang terampil dan cekatan. Pembuatan yang beramai-ramai ini memeriahkan datangnya <a href="http://kartu.kapanlagi.com/event/ramadhan.html" target="_blank">lebaran</a>, dan menunjukkan keakraban di antara penduduk pada saat itu. Hal inilah yang membuat keberadaan Ketupat, selain sebagai makanan khas, juga sebagai pengikat antar penduduk karena adanya interaksi sosial antar penduduk yang ada. (kpl/ari)</p>
<p style="text-align: justify;">http://www.kapanlagi.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://devacrana.com/2564/?feed=rss2&amp;p=224</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MUDIK, oh mudik</title>
		<link>http://devacrana.com/2564/?p=221</link>
		<comments>http://devacrana.com/2564/?p=221#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Sep 2010 15:57:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayahhafeedz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaki Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupa]]></category>
		<category><![CDATA[fenomena]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kembali]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[pulang kampung]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[unik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://devacrana.com/2564/?p=221</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah budaya unik terjadi setiap tahunnya di Indonesia, yang mana secara budaya sangat sakral untuk umat Muslim sehingga tak satupun orang muslim mau melewatkannya. Setelah berpuasa selama sebulan di bulan Ramadhan selesai meraka dengan antusias menjalankan budaya ini. Lebaran atau Idul Fitri adalah momen yang paling dinantii, hari di mana semua orang Muslim saling memaafkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebuah budaya unik terjadi setiap tahunnya di Indonesia, yang mana secara budaya sangat sakral untuk umat Muslim sehingga tak satupun orang muslim mau melewatkannya. Setelah berpuasa selama sebulan di bulan Ramadhan selesai meraka dengan antusias menjalankan budaya ini. Lebaran atau Idul Fitri adalah momen yang paling dinantii, hari di mana semua orang Muslim saling memaafkan kesalahan-kesalahan satu dengan yang lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu bentuk untuk merayakan Lebaran adalah pulang kampung atau lebih dikenal dengan mudik. Agar dapat berkumpul lagi dengan orang tua dan keluarga, jutaan orang mudik dari kota, di mana mereka bekerja atau tinggal, seperti Jakarta menuju ke tanah kelahirannya, yaitu desa. Mereka rela antri berjam-jam untuk mendapatkan tiket bus atau kereta, atau bahkan menyewa mobil. Berdesak-desakkan di dalam angkutan umum, berpanas-panasan di atas sepeda motor dan macet berjam-jam di jalanan merupakan kejadian yang selalu terjadi di setiap Lebaran. Bagi mereka, kerepotan, penderitaan dan kesulitan yang dihadapi selama dalam perjalanan pulang kampung tidak dianggap ada setelah mereka bertemu dengan anggota keluarganya. Dalam kenyataannya, perjalanan panjang selama mudik sering menjadi cerita yang menarik untuk diceritakan kepada keluarga.<span id="more-221"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pemudik (migrants) yang berasal dari desa yang sama biasanya melakukan mudik bersama-sama. Perusahaan di mana mereka bekerja menyediakan bis atau mobil sewaan untuk tenaga kerjanya sehingga mereka dapat pulang dengan lebih nyaman dan merasakan semangat kebersamaan. Seminggu atau bahkan sebulan sebelum Lebaran, mobil sewaan, tiket bis, dan kereta api sudah dipesan semua. Setiap orang pergi ke tempat tujuannya masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Mudik tidak hanya untuk orang Muslim saja tetapi sudah menjadi tradisi tahunan yang tidak dapat dipisahkan dengan komunitas masyarakat Indonesia. Banyak orang yang bekerja dan tinggal di kota besar mudik karena pada Lebaran mereka mendapat liburan yang panjang. Biasanya, mereka akan mengunjungi dan mendoakan leluhurnya yang sudah meninggal di makam. Mudik juga bisa menjadi semacam terapi yang menguatkan hubungan kekeluargaan. Dalam aspek spiritual, mudik akan membangkitkan kesegaran dan tenaga baru bila mereka kembali bekerja di kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang-orang yang bekerja jauh dengan keluarganya di kota besar sering merasa ada yang kurang dalam hidupnya dan ‘kekurangan sesuatu’ ini dapat ditemukan kembali pada waktu mereka pulang kampung. Oleh karena itu mudik Lebaran, selain menjadi tradisi tahunan, juga memiliki efek perbaikan hidup atau terapi untuk rasa kehilangan bagi mereka yang hidup jauh dari orang tua dan keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">Penduduk di kota besar bertambah setiap tahunnya ketika para pemudik kembali ke kota dengan membawa saudara atau kerabatnya ke kota. Cerita tentang kesuksesan hidup di kota membuat saudara, anggota keluarga, dan bahkan teman terpengaruh untuk meninggalkan keluarga dan desanya dan mengadu nasib di kota besar, dengan harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://devacrana.com/2564/?feed=rss2&amp;p=221</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
