Jejak
Sebagai anak tertua mencoba menoreh cita ingin menjadi peneliti terentas sejak kecil, dengan pola pikir yang rada aneh. Kegemaran akan mengetahui sesuatu secara radix ditularkan oleh sang Paman Ismail Welid yang kala itu Mahasiswa Fisika ITB. Sosok sang Paman yang sederhana namun berorientasi pada virtualisasi ilmu pengetahuan dan teknologi banyak mengilhami sepak terjangnya dalam menempuh studi dan perjalanan hidup ini. Menurut seorang sahabat ” kamu bukan tipe selebritis”.
Hari ini dipercaya memimpin Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat di STKIP Setiabudhi Rangkasbitung, sebuah perguruan tinggi yang didirikan berfondasikan idealisme dan semangat untuk memajukan daerah, khususnya Banten Selatan, yang orang-orangnya di cap sebagai orang gunung dan anti kemajuan.
Pendidikan ditempuh di Pandeglang, di kaki Gunung Karang menara air Banten. Dari dasar sampai menengah, ada Guru yang bernama Pak Soleh dan Pak Uba yang telah menoreh garis; …kamu punya daya ingat yang hebat wah, akan lebih baik kalau kamu jadi sejarawan.., ungkap pak Soleh pada suatu sore dalam kesempatan jogging bersama dari pasar heubeul (pandeglang) sampai Verkleneng di Warunggunnung.
Selama studi di Unpad juga tidak ada hal yang luar biasa, namun kedekatan dengan Prof. Edi Ekadjati dan Prof. Nina Lubis rupanya telah memberi warna yang lebih utuh, ada Varian yang integral antara profil ketekunan seorang Edi Ekadjati sang Filolog dan eklektisitas yang ditularkan oleh Nina Lubis sang ahli Sejarah Kolonial. Wachyudin merasa dua orang gurunya itu sangat berpengaruh dalam perkembangan paradigma kesejarahannya.
Sepulangnya dari pengembaraan bersama sahabatnya Deden Wibawa sang aktivis yang gigih memperjuangkan persamaan hak, khususnya kesehatan bagi kaum-kuam yang ntermarjinalkan, wachyu pulang kampung menerima tawaran Suherlan, seniornya sekaligus pimpinannya di STKIP Setiabudhi Rangkasbitung; …Urang butuh jelema gelo kawas maneh euy, pikeun ngamajukeun ieu Paguron.., pada satu kemempatan dan apa dapat diwarisinya dari orang yang satu ini adalah: loyalitas pada komitmen dan cita-cita, bukan pada person.
Berorganisasi menjadi habit yang lain, terutama yang berpihak pada orang kecil, gabung di Banten Heritage bersama senior yang dibanggakannya Moh Ali fadillah, yang selalu menekankan segalanya ada dihalaman rumah kita sendiri untuk menggali keunggulan dan kearifan. Banten ini Kaya ngan salah urus, inilah yang memotivasi kita untuk pulang, prinsifnya.
Sekarang saatnya menyeimbangkan antara pelatihan dan implementasi di tengah masyarakar: supaya tidak menjadi specialis pelatihan katanya.
- Mendampingi masyarakat Baduy dalam banyak kesempatan, untuk itu beberapa langkah dijalaninya:
- Jadi sekretaris di Banten Heritage
- Ngajar di Prodi Pendidikan Sejarah STKIP Setiabudhi Rangkasbitung
- Mendirikan majalah berbahasa sunda Damar
- Membantu Dibudpar Banten Merancang Berdirinya Museum negeri Provinsi Banten
-
Menerbitkan Jurnal ilmiah berkala di STKIP SetiaBudhi Rangkasbitung.